Kehamilan membawa berbagai perubahan hormonal dan fisiologis pada tubuh ibu. Perubahan ini kerap memicu masalah kulit seperti jerawat, melasma (topeng kehamilan), kulit kering, hingga sensitivitas yang meningkat. Begitu pula saat menyusui, kondisi kulit setiap ibu dapat bereaksi secara berbeda
Dalam memilih produk perawatan kulit, penting untuk memperhatikan jenis bahan, konsentrasi, formulasi, luas area pemakaian, serta frekuensi penggunaan. Faktor-faktor ini sangat menentukan seberapa banyak bahan yang terserap ke dalam kulit. Tidak semua bahan kosmetik harus dihindari; keamanannya dapat dinilai berdasarkan bukti ilmiah, cara pemakaian, serta kondisi kesehatan ibu dan bayi.
Bahan Skincare yang Perlu Diperhatikan Selama Kehamilan dan Menyusui
Retinoid
Retinoid topikal, seperti retinol digunakan untuk mengatasi jerawat dan tanda-tanda penuaan kulit. Meskipun absorpsi sistemik retinoid topikal relatif rendah, penggunaannya tetap disarankan untuk dihindari selama kehamilan karena keterbatasan data keamanan dan potensi risiko terhadap janin.
Hydroquinone
Hydroquinone merupakan bahan depigmentasi kulit yang sebaiknya dihindari selama kehamilan karena absorpsi sistemiknya melalui penggunaan topikal diperkirakan mencapai 35–45% dari dosis yang diaplikasikan, sementara data keamanan pada ibu hamil masih terbatas. Di Indonesia, berdasarkan Peraturan BPOM Nomor 25 Tahun 2025 tentang Persyaratan Teknis Bahan Kosmetik, hydroquinone tidak diizinkan sebagai bahan pencerah kulit wajah dalam kosmetik dan hanya diperbolehkan untuk penggunaan terbatas pada kuku artifisial, dengan kadar maksimum 0,02% setelah pencampuran dan aplikasi oleh tenaga profesional.
Asam Salisilat (Salicylic Acid)
Asam salisilat merupakan bahan eksfoliasi dengan aktivitas keratolitik dan komedolitik yang membantu mengangkat sel kulit mati serta mengurangi sumbatan pori-pori. Selama kehamilan, penggunaan topikal pada area terbatas dan dalam durasi singkat umumnya dapat dipertimbangkan karena absorpsi sistemiknya relatif rendah. Namun, penggunaan pada area kulit yang luas, konsentrasi tinggi, dalam jangka waktu lama, atau melalui prosedur chemical peeling memerlukan kehati-hatian dan konsultasi dengan dokter karena dapat meningkatkan absorpsi sistemik, sementara data keamanan pada ibu hamil masih terbatas
Oxybenzone dan Ethylhexyl methoxy cinnamate
Oxybenzone dan Ethylhexyl methoxy cinnamate adalah bahan tabir surya kimiawi yang dapat diserap melalui kulit. Namun, belum ada bukti yang cukup bahwa keduanya membahayakan janin. Karena data keamanan selama kehamilan masih terbatas, ibu hamil dapat memilih tabir surya mineral yang mengandung zinc oxide atau titanium dioxide sebagai alternatif.
Phthalates
Phthalates merupakan kelompok senyawa yang dapat digunakan sebagai pelarut atau bahan dalam produk pewangi. Tingkat keamanannya berbeda-beda bergantung pada jenis senyawanya. Menurut Food and Drug Administration (FDA) Amerika Serikat, penggunaan diethyl phthalate (DEP) dalam kosmetik dan produk pewangi saat ini tidak menimbulkan kekhawatiran keamanan berdasarkan informasi yang ada. Namun, hal ini tidak berarti semua jenis phthalates memiliki tingkat keamanan yang sama.
Formaldehyde dan Bahan Pelepas Formaldehyde
Bahan ini dapat ditemukan dalam produk pelurus rambut yang melepaskan uap formaldehida saat dipanaskan. Paparannya dapat mengiritasi mata dan saluran pernapasan serta menyebabkan dermatitis kontak. Selama kehamilan, sebaiknya hindari perawatan pelurus rambut yang berpotensi melepaskan formaldehida untuk mengurangi paparan bahan kimia, terutama jika ventilasi tidak memadai
Peraturan BPOM Nomor 25 Tahun 2025 tentang Persyaratan Teknis Bahan Kosmetik menyebutkan bahwa seluruh kosmetik mengandung formaldehyde yang berasal dari beberapa bahan pada Lampiran Bahan Pengawet yang Diizinkan dalam Kosmetik (Lampiran III) yang melepaskan formaldehyde maka harus mencantumkan label peringatan “mengandung formaldehyde" jika kadar formaldehyde dalam kosmetik lebih dari 0,05%. Oleh karena itu sangat penting membaca label “Peringatan” sebelum membeli produk kosmetik.
Bagi ibu menyusui, hindari mengoleskan produk kosmetik yang tidak ditujukan untuk area puting dan areola guna mencegah produk tertelan oleh bayi. Setelah menggunakan produk perawatan kulit, cuci tangan hingga bersih sebelum menyentuh bayi atau menyusui.
Bahan Skincare yang Dapat Dipertimbangkan Selama Kehamilan dan Menyusui
Zinc Oxide & Titanium Dioxide
Zinc oxide dan titanium dioxide merupakan bahan yang umum digunakan dalam tabir surya mineral untuk melindungi kulit dari sinar matahari. Selama kehamilan, gunakan tabir surya dengan SPF minimal 30 yang melindungi kulit dari sinar UVA dan UVB untuk membantu mencegah melasma (bercak kecokelatan pada kulit) semakin gelap.
Glycolic Acid (AHA)
Glycolic acid membantu mengangkat sel kulit mati dan membuat permukaan kulit lebih halus. Produk dengan konsentrasi rendah umumnya dapat digunakan selama kehamilan dan menyusui. Namun, chemical peeling dengan konsentrasi tinggi sebaiknya tidak dilakukan sembarangan dan perlu dikonsultasikan dengan dokter, terutama selama kehamilan karena informasi keamanannya masih terbatas.
Vitamin C & Niacinamide
Vitamin C berfungsi sebagai antioksidan dan membantu mencerahkan kulit serta menyamarkan warna kulit yang tidak merata. Sementara itu, niacinamide membantu memperkuat lapisan pelindung kulit (skin barrier) dan meratakan warna kulit. Keduanya dapat dipertimbangkan sebagai bagian dari perawatan kulit selama kehamilan dan menyusui. Namun, bukti keamanan yang secara khusus meneliti penggunaannya pada ibu hamil dan menyusui masih terbatas.
Hyaluronic Acid & Ceramide
Hyaluronic acid membantu menjaga hidrasi kulit, sedangkan ceramide memperkuat lapisan pelindung kulit agar kelembapan tidak mudah hilang. Keduanya dapat dipertimbangkan sebagai bahan pelembap selama kehamilan dan menyusui. Karena digunakan pada kulit dan penyerapannya ke dalam tubuh umumnya rendah, risiko terhadap janin diperkirakan rendah. Namun, keamanan tetap perlu mempertimbangkan keseluruhan bahan dalam produk yang digunakan.
Hal yang Perlu Diperhatikan Saat Memilih Skincare
1. Cukup gunakan pembersih wajah yang lembut, pelembap, dan tabir surya. Tambahkan bahan aktif lain secara bertahap agar mudah mengidentifikasi jika timbul reaksi iritasi.
2. Cek legalitas produk melalui aplikasi atau laman resmi Cek BPOM. Hindari tergiur klaim pemasaran seperti "natural", "organic", atau "hypoallergenic", tanpa memastikan daftar komposisi lengkapnya.
3. Cek penandaan “Peringatan dan/atau Perhatian” yang ada pada kemasan kosmetik, untuk memastikan penggunaan kosmetik sesuai ketentuan
4. Melakukan tes pada area kecil kulit membantu mengenali alergi lokal. Namun, hasil uji tempel yang baik hanya menunjukkan tidak adanya reaksi alergi lokal dan tidak sepenuhnya menjamin keamanan penggunaan bahan tersebut secara sistemik bagi janin.
5. Jika ragu tentang keamanan bahan aktif tertentu, ingin menjalani perawatan kulit oleh tenaga medis, atau mengalami masalah kulit yang semakin parah, konsultasikan dengan dokter spesialis kulit.(AS)
Daftar Referensi
American Academy of Dermatology Association. (n.d.). Dermatologist-approved pregnancy skin care. https://www.aad.org/everyday-care/skin-care-secrets/routine/pregnancy-skin-care
Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia. (2025). Peraturan Badan Pengawas Obat dan Makanan Nomor 25 Tahun 2025 tentang Persyaratan Teknis Bahan Kosmetik. https://jdih.pom.go.id/view/slide/1697/25/2025/f1ae2f302a9286b63cce8d60888a848a
Bozzo, P., Chua-Gocheco, A., & Einarson, A. (2011). Safety of skin care products during pregnancy. Canadian Family Physician, 57(6), 665–667. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC3114665/
Johansen, J. D., Aalto-Korte, K., Agner, T., Andersen, K. E., Bircher, A., Bruze, M., Cannavó, A., Giménez-Arnau, A., Gonçalo, M., Goossens, A., John, S. M., Lidén, C., Lidén, S., Maibach, H., Menné, T., Mowitz, M., et al. (2015). European Society of Contact Dermatitis guideline for diagnostic patch testing—Recommendations on best practice. Contact Dermatitis, 73(4), 195–221. https://doi.org/10.1111/cod.12432
Kovacs, T., Nadir, U., Goldenberg, M., Rohrer, T. E., Hooper, D., Jeha, G. M., & Tolkachjov, S. N. (2026). Cosmetic dermatology in pregnancy and lactation: A risk–benefit framework for clinical practice. International Journal of Dermatology. Advance online publication. https://doi.org/10.1111/ijd.70620
Madnani, N., Deo, J., Dalal, K., Benjamin, B., Murthy, V. V., Hegde, R., & Shetty, T. (2024). Revitalizing the skin: Exploring the role of barrier repair moisturizers. Journal of Cosmetic Dermatology, 23(5), 1533–1540. https://doi.org/10.1111/jocd.16171
Ong, R. R., & Goh, C. F. (2024). Niacinamide: A review on dermal delivery strategies and clinical evidence. Drug Delivery and Translational Research, 14(12), 3512–3548. https://doi.org/10.1007/s13346-024-01593-y
U.S. Food and Drug Administration. (n.d.-a). Phthalates in cosmetics. https://www.fda.gov/cosmetics/cosmetic-ingredients/phthalates-cosmetics
U.S. Food and Drug Administration. (n.d.-b). Hair smoothing products that release formaldehyde when heated. https://www.fda.gov/cosmetics/cosmetic-products/hair-smoothing-products-release-formaldehyde-when-heated
U.S. Food and Drug Administration. (n.d.-c). “Hypoallergenic” cosmetics. https://www.fda.gov/cosmetics/cosmetics-labeling-claims/hypoallergenic-cosmetics
U.S. Food and Drug Administration. (n.d.-d). Organic cosmetics. https://www.fda.gov/cosmetics/labeling-claims/organic-cosmetics