Temulawak merupakan tanaman obat asli Indonesia yang telah lama dimanfaatkan sebagai bahan jamu dan Obat Bahan Alam (OBA). Seiring perkembangan ilmu pengetahuan, temulawak terus diteliti untuk memahami kandungan kimia, potensi khasiat, mekanisme kerja, dan keamanannya. Namun, penggunaan turun-temurun tidak berarti seluruh manfaat yang dipercaya masyarakat telah terbukti secara klinis. Karena itu, memahami perbedaan bukti empiris dan bukti ilmiah penting agar pemanfaatannya tepat dan bertanggung jawab.
Mengenal Temulawak
Rimpang temulawak digunakan sebagai bahan pangan, jamu, dan bahan baku produk herbal, serta mengandung kurkuminoid, minyak atsiri, dan senyawa aktif lain, termasuk xanthorrhizol. Kandungannya dapat berbeda menurut varietas, kondisi budidaya, metode pengolahan, dan proses ekstraksi. Penelitian praklinik menunjukkan potensi aktivitas antioksidan, antiinflamasi, dan aktivitas biologis lainnya, tetapi aktivitas di laboratorium tidak otomatis membuktikan manfaat klinis pada manusia. Khasiat produk harus dinilai berdasarkan jenis bahan, bentuk sediaan, dosis, keamanan, serta bukti yang relevan.
Penggunaan Tradisional
Secara empiris, temulawak telah lama digunakan dalam berbagai ramuan tradisional. Masyarakat umumnya mengenalnya sebagai bahan untuk membantu memperbaiki nafsu makan, meringankan keluhan pencernaan, dan memelihara kesehatan, sehingga temulawak banyak ditemukan dalam jamu dan produk herbal Indonesia.
Namun, penurunan nafsu makan dapat disebabkan oleh berbagai kondisi, mulai dari masalah psikologis hingga penyakit organik. Keluhan yang menetap, terutama disertai penurunan berat badan, nyeri perut, mual, atau gangguan pencernaan berkepanjangan, perlu dievaluasi oleh tenaga kesehatan. Penggunaan temulawak sebaiknya tidak menggantikan pemeriksaan medis yang diperlukan.
Perspektif Ilmiah
Penelitian menunjukkan potensi aktivitas biologis temulawak yang menarik, antara lain terkait aktivitas antioksidan dan mekanisme peradangan. Temuan praklinik ini menjadi dasar penelitian lanjutan, tetapi belum cukup untuk menyatakan bahwa semua produk temulawak memiliki efek antiinflamasi atau antioksidan yang terbukti secara klinis.
Temulawak juga sering dikaitkan dengan kesehatan hati. Sejumlah penelitian mengkaji aktivitasnya terhadap fungsi hati, tetapi hasil pada model laboratorium atau hewan tidak otomatis berlaku untuk pengobatan penyakit hati pada manusia. Gangguan hati memerlukan diagnosis dan penanganan medis sesuai penyebabnya, sehingga produk temulawak tidak boleh dianggap pengganti terapi dari dokter.
Klaim yang Diizinkan BPOM
Dalam regulasi OBA, klaim khasiat harus sesuai dengan bukti pendukung dan persetujuan registrasi. Berdasarkan Peraturan BPOM Nomor 25 Tahun 2023 tentang Kriteria dan Tata Laksana Registrasi Obat Bahan Alam, temulawak (Curcuma xanthorrhiza Rhizoma) tercantum sebagai bahan OBA komposisi tertentu dengan klaim khasiat yang disetujui, yaitu “membantu memelihara kesehatan fungsi hati” dan/atau “membantu memperbaiki nafsu makan.”
Artinya, produk OBA berizin edar yang mengandung temulawak dapat menggunakan klaim tersebut sesuai ketentuan. Sebaliknya, klaim seperti “menyembuhkan penyakit hati,” “melindungi hati dari semua keracunan,” “mengobati maag,” atau “menyembuhkan kanker” tidak dapat diklaim sembarangan. Klaim harus objektif, tidak menyesatkan, dan sesuai bukti serta izin edar. Peraturan BPOM Nomor 30 Tahun 2023 juga menegaskan bahwa klaim khasiat OBA harus didukung bukti empiris dan/atau ilmiah yang relevan.
Temulawak dalam Jamu dan Obat Herbal Terstandar
Temulawak paling banyak ditemukan dalam produk berkategori jamu, tetapi kini juga sudah terdapat produk Obat Herbal Terstandar (OHT) yang mengandung temulawak sebagai salah satu komposisinya, yaitu kombinasi ekstrak temulawak, ekstrak daun salam, dan ekstrak buah labu siam dengan klaim “membantu mengurangi lemak darah”. Produk ini menunjukkan bahwa temulawak telah dikembangkan menjadi bagian dari sediaan dengan tingkat pembuktian lebih tinggi daripada jamu, melalui standardisasi bahan baku dan uji praklinik. Meski demikian, status OHT melekat pada formula produk secara keseluruhan, sehingga klaim yang disetujui mengikuti formula tersebut dan tidak otomatis berlaku untuk temulawak secara tunggal.
Risiko dan Penggunaan Aman
Meski berasal dari bahan alam, temulawak tetap perlu digunakan secara bijak. Risiko dipengaruhi oleh bentuk sediaan, dosis, mutu produk, kondisi kesehatan, dan penggunaan obat lain. Orang dengan penyakit tertentu, wanita hamil atau menyusui, serta pengguna obat rutin sebaiknya berkonsultasi dengan dokter atau apoteker, terutama sebelum mengonsumsi ekstrak pekat atau suplemen. Pedoman BPOM mencatat bahwa penggunaan temulawak pada ibu hamil dan menyusui belum dianjurkan, sementara penderita gangguan empedu perlu berkonsultasi dengan dokter.
Ikuti aturan pakai pada label dan jangan mengonsumsi produk secara berlebihan. Jika muncul reaksi tidak diinginkan, hentikan penggunaan dan konsultasikan dengan tenaga kesehatan.
Peran Masyarakat
Sebelum membeli produk temulawak, terapkan Cek KLIK: cek kemasan, label, izin edar, dan kedaluwarsa. Izin edar menunjukkan produk telah dievaluasi BPOM, tetapi tidak berarti dapat digunakan untuk semua tujuan kesehatan. Baca klaim resmi pada label dan jangan mudah percaya pada promosi yang berlebihan (RI).
Referensi
- Badan Pengawas Obat dan Makanan. 2023. Peraturan Badan Pengawas Obat dan Makanan Nomor 25 Tahun 2023 tentang Kriteria dan Tata Laksana Registrasi Obat Bahan Alam. Jakarta: Badan Pengawas Obat dan Makanan.
- Badan Pengawas Obat dan Makanan. 2023. Peraturan Badan Pengawas Obat dan Makanan Nomor 30 Tahun 2023 tentang Pedoman Klaim Khasiat Obat Bahan Alam. Jakarta: Badan Pengawas Obat dan Makanan.
- Badan Pengawas Obat dan Makanan. 2024. Peraturan Badan Pengawas Obat dan Makanan Nomor 10 Tahun 2024 tentang Penandaan Obat Bahan Alam, Obat Kuasi, dan Suplemen Kesehatan. Jakarta: Badan Pengawas Obat dan Makanan.
- Oon, S. F., Nallappan, M., Tee, T. T., Shohaimi, S., Kassim, N. K., Sa’ariwijaya, M. S. F., dan Cheah, Y. H. 2015. Xanthorrhizol: a review of its pharmacological activities and anticancer properties. Cancer Cell International 15: 100. London: BioMed Central.
- Rahmat, E., Lee, J., dan Kang, Y. 2021. Javanese Turmeric (Curcuma xanthorrhiza Roxb.): Ethnobotany, Phytochemistry, Biotechnology, and Pharmacological Activities. Evidence-Based Complementary and Alternative Medicine. London: Hindawi.